Tuesday, May 25, 2010

Aku telah tertipu oleh waktu...

Ada satu hal yang masih mengelabuiku hingga sekarang. Satu hal, dan aku yakin kalian semua juga merasakan hal yang sama..

Panggil saja dia dengan sebutan WAKTU.
Aku mengenalnya dengan sangat baik. Mulai dari aku terlahir di dunia ini, aku sudah merasakan keberadaannya. Dia selalu menemaniku di setiap langkah kehidupanku, di setiap hembusan nafasku dan disetiap hentakan kakiku.

Sudah berapa banyak buku yang aku baca mengenai dia. Setiap kata dan kalimat yang kutelusuri, aku baca dengan penuh penghayatan... Aku merenungi keberadaannya yang sering terlupakan olehku.

Hm, bukan terlupakan.
Lebih tepatnya, dia mengelabuiku.


Dia selalu ada bersamaku tapi di saat itu pula dia selalu mengelabuiku..
Dia membisikkan rayuan-rayuan gombalnya tentang hari esok..
Dengan lembut dan sopan, ia berkata,”Tenang saja, masih ada hari esok.”

Hari esokk..

Janji hari esok itulah yang mampu memperdayakanku.
Membuatku bersantai-santai ria.
Banyak sekali waktu yang kuhabiskan dengan hal-hal yang tidak penting, seperti :
malas-malasan, tidur-tiduran, buka facebook, nonton tv, maenan hape, dan hal-hal tidak penting lainnya..

Janji hari esok itu juga lah yang telah mencuci otakku.
Membuatku menunda-nunda banyak hal yang justru harus aku kerjakan..

Aku telah tertipu olehnya.
Aku percaya akan hari esok dan aku pikir setiap detik yang aku lewati - demi hari esok - itu tak begitu penting bagiku.
Bukankah dia telah membujukku bahwa setelah ini masih ada hari esok??
Oh, sungguh aku telah tertipu..

Aku pikir dia akan berjalan dengan lambat sehingga aku bisa menikmati setiap hari esok yang kutunggu tunggu.. Tapi aku salah! Nyatanya, dia lari secepat kilat tanpa suara..
Sudah kuduga. Aku tertipu. Aku terpedaya. Aku dikelabui olehnya.

Sudah 18 tahun aku hidup. 18 tahun yang ’ternyata’ terasa cepat bagiku.
Rasanya baru kemarin aku lahir di dunia ini.
Rasanya baru kemarin aku digendong di pangkuan ibu.
Rasanya baru kemarin aku susah payah belajar berjalan.
Rasanya baru kemarin aku tumbuh besar di bangku TK.
Rasanya baru kemarin aku mengecap pendidikan SD.
Rasanya baru kemarin aku melanjutkan pendidikan di SMP.
Rasanya baru kemarin aku giat-giatnya belajar di SMA.
Semua itu seolah-olah baru terjadi kemarin, karena aku hampir mengingat semua kenangan-kenangan itu.. Aku masih mengingatnya..

Aneh, bukan??
Semua terasa cepat...

3600 detik x 18 tahun.
Coba hitung!
Betapa banyaknya waktu yang *mungkin* telah aku buang dengan sia-sia.

Aku terlanjur percaya pada hari esok.
Padahal setiap detik yang kulalui menandakan bahwa jatah hidupku juga semakin berkurang..
Ada limit umur yang telah ditetapkan Tuhan pada setiap orang.

Berapa limit umurku? Aku tak tau.
Hari esok adalah sebuah misteri.

Dia. Waktu. Memang telah mengelabuiku..

Friday, May 21, 2010

Masalah akan selalu ada...

Dulu aku nggak mengerti kenapa aku harus berhadapan terus dengan masalah-masalah tiap harinya.. Setiap yang satu terselesaikan, pasti akan ada masalah lain yang datang..

Apalagi masalahku yang satu ini.
Kenapa orangtuaku selalu sibuuukkk kerja dan menganggap kerja itu adalah sesuatu yang sangaaattt penting???

Masalah ini seakan tak mau pergi dari kehidupanku. Datang terus seolah ia betah berdekatan denganku.

Terkadang aku mencoba tuk bersabar dan terkadang pula aku meneteskan air mata ketika ayah dan ibu lebih mementingkan bekerja daripada mengajakku liburan ke suatu tempat. Tak ada waktu kosong bagi mereka. Kecuali hari minggu dan tanggal-tanggal merah..

Honestly, aku agak iri dengan teman-temanku..
Ketika orangtua mereka mengajak mereka liburan..
Ketika orangtua mereka bersedia datang mengambil rapor..
Ketika orangtua mereka mendampingi mereka ke stasiun..
Ketika orangtua mereka menelpon mereka jika sedang berada jauh dari rumah..

Dan masih banyak hal lainnya yang membuatku agak iri.. Hm, salahkah jika aku merasa seperti itu?

Ingin rasanya aku mencoba tuk bertukar tempat. Aku berandai-andai ingin punya keluarga seperti teman-temanku itu.. Hmm, hanya tuk beberapa hari saja, aku penasaran gimana rasanya mendapatkan rasa kasih sayang yang melimpah seperti mereka..

Sungguh, aku pengen tauu..

Tapiii... seperti inilah takdirku. Aku tak bisa memilih di keluarga mana aku mau dilahirkan. Aku tak bisa menentukannya. Yang berkehendak adalah Tuhan.

Aku tau, Tuhan pasti punya alasan tersendiri mengapa aku diberi cobaan seperti ini..
Aku yakin, rencana Tuhan adalah yang terbaik bagiku..
Meskipun tidak sesuai dengan keinginanku, tapi aku yakin ada hikmah di balik semua ini..

Yap... Dan hikmah itu baru aku rasakan beberapa hari belakangan ini..
Well, tepatnya saat acara Wisuda-ku, 5 hari yang lalu..

Saat itu lagi-lagi ibu tak bisa datang. Dengan satu alasan yang sama. Kerja.
Begitu juga dengan ayahku, beliau malah bilang gini, ”Sudahlah nak, pekerjaan itu lebih penting daripada menghadiri acara yang kayak gitu. Kerja itu kan buat menghidupi keluarga.”

Kau tau, bagaimana reaksiku??
Aku kecewa. Hanya itu.
Perasaanku tak sesedih saat pertama kali aku tau bahwa pekerjaan itu sangat penting bagi mereka. Perasaanku nggak sesakit seperti saat mereka berulang-ulang mengatakan sibuk. Aku nggak menangis, berbeda dengan yang kulakukan sebelum-sebelumnya...

Mungkin, aku sudah bisa maklum dan menerima hal ini..
Yap, menerima takdir yang telah Tuhan gariskan padaku..
Setidaknya aku menjadi tau akan suatu hal, mengapa masalah itu selalu datang dan tak pernah kunjung habis..

Dengan masalah, aku belajar untuk menjadi lebih dewasa..
Dengan masalah, aku belajar untuk berpikir positif..
Dengan masalah, aku akan kebal terhadap masalah itu sendiri..


Image and video hosting by TinyPic


Meskipun pada awalnya sakit, tapi ketika masalah yang sama itu datang terus-menerus, lama kelamaan rasa sakit itu berkurang dan pada akhirnya aku tak merasakan rasa sakit itu lagi..