Showing posts with label Aneh. Show all posts
Showing posts with label Aneh. Show all posts

Tuesday, December 21, 2010

Semua serba terbalik..

Tidakkah kamu merasa bahwa kehidupan dunia zaman sekarang ini sungguh aneh, membingungkan dan serba terbalik?


Aku merasakan hal itu. Perbuatan dan hal yang baik seolah menjadi sesuatu yang sepele. Sedangkan perbuatan dan hal yang buruk menjadi sesuatu yang sangat biasa.


Aku ambil contoh yang sederhana saja..


Aku punya seorang teman yang sering mengeluh tentang kejelekan dan keburukan salahsatu temannya. Dia sering menggunjingnya dihadapanku dan teman dekatku juga. Mau tak mau, aku harus mendengarkannya. Well, lama-kelamaan hal tersebut menjadi sangat biasa bagi kami untuk dibicarakan. Digunjing, di’rasani’, dan diungkit-ungkit terus setiap dia menjadi korban dari sikap buruk temannya itu. Aku tau dia sangat kesal, tapi aku rasa sikapnya itu berlebihan. Jika memang tidak suka, kenapa dia tidak berbicara jujur kepada temannya itu? Jika memang tidak suka, kenapa harus menggunjingnya terus?


Setiap orang mempunyai keburukan.
Apakah perlu kita menyebarkan keburukannya?

Bukankah lebih baik kita diam daripada menyebarluaskan keburukannya itu?


Kemudian ada contoh yang lain juga..


Aku pernah ditanyai oleh seorang temanku, ”Dew, sebenarnya kamu tuh uda pernah pacaran gag sih?”


Dengan cuek aku menjawab belum. Rupanya temanku itu sedikit terkejut. ”Belum??” tanyanya lagi.


”Ya, aku memang gak mau pacaran.” ucapku to the point.


Dan seperti yang kuduga. Temanku menjadi lebih terkejut lagi dan sedetik kemudian ia menertawakanku. “Ha ha ha.. Masa’ mau langsung nikah?”


Ha ha ha, aku ikut tertawa sinis juga dalam hati. Kata siapa aku pengen langsung nikah? Apakah aneh jika di zaman modern ini ada seorang anak remaja yang belum pernah pacaran?


Aku tidak mau pacaran karena aku ingin menghindari hal-hal ’buruk’ yang bisa terjadi.

Aku tidak mau pacaran karena aku tidak mau pikiranku terpecah untuk hal-hal yang kuanggap tidak penting itu.


Apa aku salah? Di dalam agamaku, pacaran itu dilarang. Apakah aku salah karena telah mempertahankan keyakinanku ini? Dan kenapa pacaran itu menjadi hal yang sangat biasa sekarang?


Kemudian contoh yang sangat global adalah maraknya aksi korupsi para pemerintah. Mereka dengan teganya mengambil uang rakyat. Tanpa malu-malu dan tanpa pikir panjang. Lihatlah! Saking biasanya, para korupsi di negara ini nggak malah menurun tapi malah meningkat!


Betapa susahnya menjadi orang yang jujur dan baik di zaman sekarang ini. Sekalinya kita mencoba untuk bersikap jujur dan baik, pasti akan langsung dicap ’aneh’, ’kuno’ dan ketinggalan zaman. Orang yang baik dan jujur terkadang malah mendapat musuh.


Aneh, bukan???

Kenapa semuanya menjadi serba terbalik??

Sunday, December 5, 2010

Ada apa dengan anak kecil zaman sekarang???

Ini adalah sebuah keanehan yang terjadi di sebuah warnet. Oh well *ralat* mungkin di beberapa warnet lainnya juga.


Aku tidak akan menyebutkan nama warnet itu. Yang jelas, perubahan yang terjadi sangat kontras sekali bagiku. Aku sering mengunjungi warnet itu saat aku SMP, mungkin sekitar 4 tahun yang lalu. Ruangan warnet itu terbagi menjadi dua, komputer untuk nge-game di bagian sebelah kiri, sedangkan komputer untuk internet di bagian sebelah kanan. Masih jelas dibenakku, ruangan di sebelah kanan itu penuh dengan komputer yang berjejer dengan rapi. Ruangan internet itu ramai digunakan oleh anak SMP, SMA, hingga umum.

Well, setidaknya itu yang kuingat 4 tahun lalu.


Setelah sekian lama aku tidak berkunjung kesana, akhirnya kemarin aku menyempatkan diri pergi ke warnet itu karena aku punya keperluan untuk men-scan tugasku. Suara bising langsung menyambutku. Aku menoleh ke sebelah kiri, suara itu jelas berasal dari ruangan tempat gaming. Disana dipenuhi oleh anak-anak kecil. Masih wajar, batinku. Bukankah peminat gaming mayoritas dari anak kecil?


Kemudian aku menoleh ke sebelah kanan. Betapa kagetnya aku saat melihat ke ruangan itu. Ruangan komputer tempat internet itu dipenuhi dengan anak-anak kecil ! Semua komputer penuh oleh anak-anak kecil! Aku tidak bisa menebak berapa umur mereka, tapi menurut perkiraanku mereka masih anak-anak SD. Hey, apakah mereka tidak didampingi? Aku tidak melihat adanya orang dewasa.


Sungguh miris melihat pemandangan itu. Apakah ini dampak dari meluasnya media dan dunia internet? Hingga digandrungi oleh anak-anak kecil??


Aku sungguh penasaran sekali, situs apa yang kira-kira dibuka oleh anak-anak itu. Karena tampaknya mereka asyik sekali menatap layar didepannya. Iseng-iseng aku melangkahkan kaki diam-diam mendekati mereka. Aku melihat adanya warna biru-biru mendominasi situs tersebut. WHAT?? FACEBOOK??


Gilaaaa bangettt, anak SD zaman sekarang uda bisa facebook-an??? Heyyy, emangnya mereka mau having connected dengan siapa?? Teman lama?? Pacarr?? Atau Orang asing?? Tidak mungkiiinnnn…!!


Apa yang mereka lakukan dengan facebook itu??


Bagiku tidaklah wajar jika anak SD yang menggunakannya. Menurutku, belum waktunya mereka untuk menggunakan facebook. Facebook tidak cocok untuk mereka.. Lagipula ber-internet tidak bisa sembarangan. Jika salah mengklik saja sudah bisa masuk ke dalam situs yang ”aneh-aneh”. Hal itu jelas berbahaya bagi mereka.


Bukankah yang dilakukan anak kecil seharusnya adalah bermain petak umpet, loncat tali, atau gobak sodor? Bukankah permainan seperti itu lebih menyenangkan untuk dimainkan ketimbang memaksa otot mata bekerja menatap layar komputer?


Ada apa dengan ANAK KECIL ZAMAN SEKARANG?

Thursday, September 30, 2010

Suicide. Don't Suicide!

Bunuh diri.

Aku pernah menginginkan hal itu. Bahkan saat umurku masih 13 tahun keinginan itu begitu kuat melekat dalam benakku.


Entahlah apa yang membuatku bisa berpikir hingga ke sana. Yang kutahu saat itu aku berada pada titik terendah dalam kehidupanku, ketika aku merasa bahwa tak ada yang peduli padaku, tak ada yang benar-benar mengerti perasaanku.


Aku terjebak dalam sepi. Kesepian yang terkadang membuatku nyaman namun tersiksa.

Aku menjerit dalam hati, meminta kepada Tuhan agar aku tak perlu lama-lama hidup di dunia ini.


Bahkan saking putus asanya, aku meminta agar aku diberi penyakit yang mematikan.

Sungguh, aku tak bohong! Aku pernah meminta begitu kepada Tuhan.

Itu doa yang kupanjatkan karena saat itu aku tak tahan untuk menjalani kehidupanku lagi..


Jika perlu, mungkin keinginan untuk bunuh diri itu patut dipertimbangkan. Tapi aku tak melakukannya. Aku tak melakukannya hingga saat ini.


Apa aku takut? Mungkin sedikit.

Tapi bukan itu alasan sebenarnya.


Kau mau tau?

Tuhan-lah yang membuatku membuang jauh-jauh keinginanku itu..

Tuhan-lah yang mencegahku melakukan hal tersebut..

Tuhan-lah yang menegurku lewat kejadian-kejadian tak disangka yang nyaris menimpaku...


***


Kejadian ini berulang-ulang terjadi padaku.


Saat kelas 4 SD, aku terjatuh dari becak di tengah-tengah jalan raya. Saat itu hujan deras. Banyak mobil dan motor yang berlalu lalang.


Syok! Itulah reaksiku. Aku jatuh dalam posisi merangkak. Tasku beserta isinya juga ikut jatuh. Untung saja Tuhan masih menyelamatkanku, tak ada kendaraan yang menabrakku. Aku berdiri perlahan-lahan, kembali duduk didalam becak dengan pikiran kosong serta tanda tanya besar atas peristiwa itu.


Kemudian, saat aku SMP. Sepulang sekolah, aku tergesa-gesa hendak masuk kedalam angkot. Aku membawa payung karena saat itu juga sedang hujan. Ketika aku baru akan naik kedalam angkot, tiba-tiba dari belakangku ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang. Aku masih ingat, pinggiran payungku sampai bengkok karena bergesekan dengan mobil tadi. Tapi badanku nggak kenapa-kenapa, padahal jarak mobil itu dari badanku hanya sekitar 15 cm! Nyaris, bukan?


Kemudian, saat aku SMA. Waktu itu aku hendak menyebrang jalan ke gerbang sekolah. Aku menoleh kearah kanan karena memang jalan itu adalah jalan satu arah yang dilalui dari arah kanan. Ketika aku sudah menyebrang ditengah-tengah, tiba-tiba ada sebuah motor yang mengerem mendadak dari arah kiriku. Aku kaget! Melihat motor itu yang jaraknya sanggaaaaaat dekat dengan tempat aku berdiri. Mungkin, jika si pengendara itu luput untuk mengerem motornya, saat itu bisa saja aku jadi korban kecelakaan.


Tapi yang terjadi tidak demikian. Aku tidak kenapa-napa...


Masih ada sekitar 5 kejadian lagi yang membuatku nyaris hampir kecelakaan. Tapi tidak aku ceritakan disini karena menurutku akan sangat panjang sekali.


Setidaknya dari semua kejadian itu, aku tetap sehat-sehat saja sampai sekarang. Aku masih hidup.


Image and video hosting by TinyPic


Kau tahu, apa hikmah yang kuambil dari semua kejadian itu?


Janganlah berpikir untuk mengakhiri hidup ini secepatnya...


Kematian itu adalah sesuatu yang pasti. Hal itu tidak akan menghampirimu jika bukan tenggat waktu yang telah Dia putuskan. Kematianku, kematianmu, semua ada masa nya.


Janganlah berpikir untuk melakukan bunuh diri!


Tuhan masih menyayangimu, bagaimanapun keadaanmu. Seberapa putus asanya kamu, Dia berada di sisimu. Ingatlah, kamu tidak sendirian!


Tak apa jika seluruh dunia memusuhimu.

Tak apa jika semua orang mencemoohmu.

Tak apa jika tak ada seorang pun yang mau menolongmu.


Ingatlah, masih ada Tuhan.

Dia, melihatmu dengan sudut pandang yang berbeda.

Dia, akan menolongmu melalu peristiwa-peristiwa yang tak terduga.

Dia, selalu mengawasimu dan memerhatikanmu.


Hargailah apa yang telah Tuhan berikan padamu.

Hargailah hidup ini.

Setidaknya, bertahanlah untuk tetap hidup demi Tuhan.


Image and video hosting by TinyPic


P.S :

This post is dedicated to myself and for everyone in this world who living desperately. Just remember, You are not alone!

Wednesday, July 21, 2010

Ketika keajaiban menghampiriku...

Aku sendiri heran kenapa aku bisa berada di ruangan itu. Ruangan berbentuk persegi yang memiliki ukuran seluas aula sekolah. Terdapat banyak bangku di sana, dengan jarak yang agak berjauhan antar setiap bangku.


Aku, salahsatu dari mereka yang duduk di ruangan itu.

Aku, salahsatu peserta SNMPTN 2010.


Tanpa persiapan khusus dan tanpa semangat, aku mengikuti tes tersebut. Honestly, aku sedikit terpaksa mengikuti tes ini. Jika bukan karena saran dan perintah dari ibuku, mungkin aku tak akan mengikutinya.


Well, percaya tak percaya, aku hanya bermodalkan doa, ingatan dan alat tulis. Cukup itu saja. Buku SNMPTN 2010 yang aku beli 2 minggu sebelumnya seakan tak berarti apa-apa bagiku. Awalnya aku sedikit berniat untuk belajar lagi dan menggali ingatanku kembali. Tapi ternyata saat itu rasa malas lebih mendominan didalam diriku. Alhasil, buku itu hanya teronggok di samping ranjang tidurku bergitu saja. Konyol, bukan??


Sepanjang tes itu aku cukup banyak melantunkan doa. Setiap akan memhitamkan jawaban yang kupilih, aku pasti membaca bismillah atau shalawat. Mungkin si pengawas sedikit curiga melihat mulutku yang komat-kamit itu, tapi aku tak peduli. Entah kenapa saat itu aku sungguh percaya pada keajaiban Tuhan. Aku sudah pasrah pada Tuhan sejak awal.


Saat itu pun, aku sedikit kewalahan dengan soal-soal yang menurutku sangat susah dan panjang-panjang. Apalagi melihat banyaknya deretan angka dalam soal matematika, fisika dan kimia. Ugh, membuatku ingin cepat-cepat menutupnya saja. Aku sedikit menguras otak saat itu, memanggil-manggil ingatanku kembali, agar rumus-rumus yang dulu aku lupakan itu mau kembali muncul di dalam otakku. Tapi, aku hanya ingat beberapa saja. Sisanya aku mengarang bebas sesuai keinginan jari tanganku.


Sungguh. Saat itu rasanya aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya saja. Aku tak tahan melihat tampang serius orang-orang disekitarku yang mungkin banyak mengeluarkan keringat dan memutar otaknya sekuat mungkin agar bisa mengerjakan soal-soal tersebut dengan baik dan benar.


Waktu yang kulewati saat itu sungguh terasa menyiksaku saja. Ada suara dalam hati yang berkata supaya tes ini bisa berakhir secepat mungkin. Dan dua hari itu akhirnya berhasil aku lewati..


Hingga masa penantian panjang pengumuman SNMPTN itu uda didepan mata. Agak dag dig dug juga saat akan memasukkan nomer tesku kedalam website resminya SNMPTN. Tapi diluar rasa deg-degan itu, sebenarnya aku sudah pasrah. Bulat total aku pasrah!


Tapi yang terjadi justru sebaliknya, aku diterima pada pilihan ke-3, di Sastra Jepang Brawijaya!!


Wow, sungguh mengejutkan!! Aku pikir ini adalah sebuah kejaiban yang Tuhan berikan padaku! Tanpa campur tangan-Nya tak mungkin hal ini terjadi!


Saat itu aku sampai meneteskan airmata saking senengnya. Setidaknya hasil tersebut bisa menghibur hatiku yang tak kunjung jua diterima di PTN.


Tapi, dengan berjalannya waktu, hal itu malah membuatku bimbang. Karena sejujurnya sastra jepang bukanlah passionku. Aku suka mempelajari bahasa, tapi aku rasa mempelajari sastra jepang selama 4 tahun bukanlah sesuatu yang aku inginkan...



Passionku ada pada DKV! Jadi sudah kuputuskan bahwa Sastra Jepang Brawijaya akan aku lepas. Aku lebih memilih kuliah di Multimedia Ubaya saja (meskipun swasta).